Rabu, 06 Februari 2019

Perpanjangan Paspor di Kantor Imigrasi Cirebon

Beberapa waktu yang lalu saya memperpanjang paspor saya di Kanim Cirebon. Sebetulnya paspor saya yang lama sudah mati. Tapi sepertinya memperpanjang paspor yang masih berlaku maupun yang sudah mati syaratnya sama.

Ada yang sedikit berbeda dengan proses pendaftaran pengurusan paspor di Kanim Cirebon. Pendaftararan dilakukan melalui whatsapp. Bagi yang mau membuat atau memperpanjang paspor harus mendaftar via whatsapp setiap hari minggu mulai jam 7 malam, atau setiap hari kerja mulai jam 7 pagi. Saya beberapa kali mencoba mendaftar tanpa acuan jam tersebut dan selalu gagal. Setelah saya konfirmasi ke kanim, ternyata ada waktu (hari dan jam) khusus untuk pendaftaran. Jika tidak bisa melakukan pendaftaran dengan whatsapp (atau mungkin selalu gagal), petugas kanim pernah menyarankan saya untuk mengurus paspor pada hari sabtu. Pada hari sabtu, masyarakat boleh mengurus paspor tanpa harus mendaftar dulu via whatsapp, melainkan langsung mendaftar manual di kanim.

Setelah melakukan konfirmasi pendaftaran, saya mendapatkan nomor urut pemeriksaan berkas dan mengisi formulir di customer service. Syarat yang diperlukan untuk memperpanjang paspor yaitu fotokopi KTP, KK, paspor lama dan mungkin menyertakan keterangan keperluan pengurusan paspor itu untuk apa. Setelah semua berkas dinyatakan lengkap, saya diberikan nomor urut untuk pengurusan paspor (identitas, interview dan foto). Interviewnya hanya biasa saja, petugas menanyakan dan mengkonfirmasi identitas, dan keperluan paspornya itu untuk apa. Setelah selesai, saya menunggu sebentar untuk dipanggil foto. Setelah foto petugas akan memberikan billing pembayaran. Kita harus membayar biaya (150rb untuk paspor 24 halaman, atau 300rb untuk paspor 48 halaman) di bank atau kantor pos. Di kanim cirebon ada stan kantor pos untuk pembayaran kok, jadi tidak perlu jauh-jauh keluar kanim untuk membayar. Setelah pembayaran, tinggal tunggu 3 hari sampai paspor jadi. Tidak ada pemberitahuan apa-apa dari kanim, pokoknya setelah 3 hari paspor bisa diambil. Kalau mau mengambil paspor lama juga (karena penuh kenangan mungkin, eeaa), harus mengisi formulir dulu saat pengambilan. Syarat pengambilan paspor baru maupun lama hanya dengan menunjukkan KTP asli.

Nah, begitulah proses pengurusan paspor di Kanim Cirebon. Kalau pembuatan paspor baru sepertinya tidak jauh berbeda. Hanya mungkin syarat dokumennya lebih banyak, seperti akta lahir/ijazah yang tertera nama dan tanggal lahir kita.


Jumat, 01 Februari 2019

Dunia Perdosenan dan Perjurnalan

Dulu saat kecil saya selalu berpikir bahwa menjadi dosen dan profesor itu keren sekali. Mereka orang-orang hebat. Seseorang harus menemukan sesuatu (ilmiah) yang baru agar bisa disebut profesor, seperti Pak Habibie. Dari sisi keilmuan Profesor jaman dulu lebih berat kepada penguasaan seseorang tersebut terhadap sebuah ilmu. Urusan administrasi dosen pun tidak sebanyak sekarang (sepertinye hehe), sehingga para dosen lebih fokus pada pengajaran, penguasaan ilmu, dan kebermanfaatan ilmu.

Tapi beberapa tahun belakangan ini, urusan administrasi sangat ditekankan di dunia perdosenan. Dosen harus melakukan Tri Dharma Perguruan Tinggi (pengajaran, penelitian, pengabdian). Setiap tahun (bahkan tiap semester) dosen dituntut untuk melaksanakan penelitian dan pengabdian. Dan, yang menjadi tolak ukur jabatan pangkat dosen sekarang adalah jurnal. Ya, jurnal menjadi primadona di dunia perdosenan beberapa tahun terakhir. Untuk bisa mengajukan kenaikan pangkat, dosen harus submit artikel pada jurnal baik nasional maupun international. Akibatnya, dunia perjurnalan juga ikut booming. Banyak jurnal bermunculan, yang terakreditasi maupun tidak, dengan bermacam-macam indeksasi sebagai tolak ukur, dan jurnal scopus. Jurnal terindeks scopus (Q1, Q2, Q3, dan Q4) menjadi yang paling tinggi tingkatnya. Hampir semua dosen berlomba-lomba berusaha menulis dan memasukka artikelnya pada jurnal yang terakreditasi scopus. Scopus menjadi sebuah tolak ukur (dan gengsi).

Karena tuntutan terkait artikel itulah, dosen sekarang memberikan fokus yang lebih besar pada aspek penelitian dan perjurnalan. Hal ini bukan hal yang buruk, baik malah. Akan tetapi, kadang ada kecenderungan bahwa dosen akan melakukan upaya agar indeks google scholar dan scopus mereka naik. Misalnya, sekarang hampir semua syarat lulus bagi mahasiswa adalah memasukkan artikel skripsinya ke jurnal dengan mencantumkan nama dosennya. Bahkan kadang membebankan biaya jurnal kepada mahasiswa. Bisa dibayangkan, misal mahasiswa bimbingannya tiap tahun ada 10 orang, satu tahun dosen tersebut bisa tercantum namanya di berapa artikel? Dengan begitu, jumlah record artikel dosen akan naik drastis. Kadang ada juga yang nekat memanipulasi atau memodifikasi data agar penelitiannya terlihat meyakinkan. Semua itu dilakukan demi memasukkan artikel ke jurnal yang bergengsi.

So, saya merasa dunia perdosenan tidak seindah dulu. Sekarang semua dosen berlomba-lomba untuk menerbitkan artikelnya dalam jurnal. Saya pribadi jadi berpikir bahwa sekarang untuk bisa menerbitkan artikel pada sebuah jurnal yang dibutuhkan adalah strategi penulisan, bukan kebenaran ilmiah. Selama seseorang pandai mengemas hasil penelitian ke dalam sebuah artikel, maka dosen tersebut sudah bisa mendapatkan poin untuk naik pangkat/jabatan. Masalah kebenaran ilmiah datanya? hanya ia sendiri dan Tuhan yang tahu. Memang ada bagusnya kebijakan tentang artikel jurnal bagi dosen. Dosen menjadi aktif, kreatif, dan berinovasi. Tapi, karena tuntutan itulah kadang dosen melakukan penelitian dan pengabdian, serta menulis artikel seadanya seolah-olah hanya untuk memenuhi kewajiban (agar tunjangan/serdos cair hehe). Passion dan soul dalam penelitian kadang tidak benar-benar ada. Jadi, apakah jurnal itu bisa benar-benar menjadi tolak ukur kualitas dosen? Bisa iya, bisa tidak. Kembali lagi, jika memang keilmuan dan kebenaran ilmiahnya tetap terjaga maka (bagi saya) jurnal bisa dijadikan tolak ukur.

Kamis, 31 Januari 2019

Pendakian Gunung Prau

Pendakian kedua saya setelah ranukumbolo. Yah, sengaja milih gunung yang nggak terlalu tinggi krn msh pemula. Gunung Prau tingginya sekitar 2500an mdpl. Saya berempat dengan teman2 ikut open trip krn kami cewek semua. Kita naik via wates, mulai berangkat sekitar jam 5 lebih dari basecamp. Kalau kata orang sih trek via wates itu trek terkalem utk para pemula. Iya sih, jalurnya nggak terlalu ekstrim. Tp aku ngrasanya lebih nanjak ini drpd waktu ke ranukumbolo hehe. Krn kita berangkat menjelang maghrib, di pos pertama kita sempet liat siluet2 sunset gitu. Amazing. Sebenernya dr basecamp ke pos 1 itu ada jasa ojek, sekitar 20rb. Trek ke pos 1 kita nglewatin perumahn penduduk dan perkebunan gitu. Setelah pos 1 baru deh nglewatin hutan-hutan.



Dr pos pertama sampe puncak kita jalan gelaap krn udah malem. Cuma ditemani senter hp sama musik. Untung mas2 pemandunya inisiatif bawa speaker, kalo nggak sereem. Malem2 gelap lewat hutan2. Di pos 3, ada yg namanya tangga cinta. Buat para jomblo pasti kerasa ngenesnya haha. Namanya sih tanjakan cinta, tp nggak bikin jatuh cinta soalnya tanjakan naiknya lumayan euy, puanjaang. Waktu di tanjakan cinta keliatan banget sebelah kana gunung2 keliatan cantik padahal malem. Apalagi kalau lg terang. Langit malemnya saat itu juga super cantik!

Kalau kata mas2 pemandunya "ayo mbak, dikit lg nyampe, itu udah keliatan puncaknya". Tapi percayalah gaes, semua yg keliatan deket di gunung itu aslinya jauh (kayak kamu, eeaa). Dan dengan sisa2 tenaga akhirnya kita sampe puncak, dan dinginnya ampuuunn. Kayaknya sekitar belasan derajat, tp udah lumayan bikin tangan mati rasa. Abis tendanya siap rasanya pengen langsung tepar. Tp mas2 pemandu semangat banget nyiapin makan malem. Sebenerny udah nggak selera makan krn pengen tidur banget, dan khawatir jg kalo makan takut besoknya sakit perut haha. Masalah buang air juga PR banget nih. Kita harus nyari semak2 yg nggak keliatan tiap kali mau buang air. Udah gitu hrs irit air, kebayang kan haha.

Abis makan dikit trs kita tidur dan akhirnya bangun pas subuh. Abis sholat kita nungguin golden hour. Pas mataharinya mulai nongol wah keren bangeett. Worth it deh! Kita hunting2 foto sampe sktr jam 6 trs mulai pd nyiapin sarapan.



Dan you know gaes, mas2 pemandu niaat banget bawa melon sama buah naga (kebayang kan beratnya kayak apa) dan kita dibikinin semacam sup buah mungkin. Kebayang kan, makan sup buah di puncak, mantap! Lauknya juga mantap banget, pake bikin bakwan segala haha.



Abis sarapan kita beres packing siap2 turun. Jgn lupa kalo mau turun sampai dibersihin ya gaes. Jalur pulang kita lewat patak banteng. Ya Allah treknya ekstriim, curam dan berdebuuu banget! Untuk naiknya nggak lewat sini, kalo naik lewat sini kayaknya nggak bakal sanggup sampe puncak haha. Turun sih lebih cepet ya, nggak ada 3 jam kit udah sampe basecamp.



So, overall capek tp worth it! Buat para pendaki pemula wajib cobain ke prau.



Minggu, 27 Januari 2019

The beauty of Berlin

Ah, terlalu banyak yang ingin kuceritakan.
Berlin, kota yang indah sekali. Walaupun aku akui, Paris tetaplah yang terindah.
Liburan kali ini aku ke Berlin, bersama 4 teman lainnya (Fachry, Wahid, pak Zul, dan pak Rizal). I was the most beautiful girl at that moment! :D
It took around 8-9 hours from Utrecht. Saat perjalanan ke Berlin, kami bertemu 5 teman dari Grongingen dan Leeuwarden yang juga mau ke Berlin. Rasanya senang sekali bisa bertemu teman sebangsa, sebahasa, dan seperjuangan. Setelah kami sampai di ZOB (Zentraler Omnibusbahnhof Berlin), kami berpisah karena berbeda planning. Kami singgah di wombats hostel dulu untuk menitipkan barang2. Setelah itu, objek pertama kami adalah East side gallery dan .... Setelah itu kami ke Berlin wall, dan Brandenburg Gate. Malamnya, kami ke Brandenburg gate lagi karena kami ingin menikmati suasana malamnya. Karena Reichstag juga satu kompleks dengan gate, kami juga mampir kesana. Setelah itu, kami ke Berlin Victory column. Karena dari pagi kami sudah berjalan, rasanya capeeeeekkk sekali. Hampir tak bisa melangkah kaki ini. Keesokan harinya, kita ke Berlin dom, museum island, dan checkpoint charlie. Semua ada cerita historynya. Bagi yang suka sejarah, pasti kalian suka Berlin

Kamis, 04 Februari 2016

Teaching math - Bar Graph

This is the story of today's class.
Yesterday I got confused of what kind of learning activity of Bar graph for P3. I tried to look for any resources and finally decided to give them an activity in which they collect the data of their friends' fav colour and foods, and then make the bar graph based on the data. In the first time, I thought that I'd help them in collecting the data by asking the class of their fav colour and food, so they just need to record the number of studts in each category.
But hey, it did'nt work that way today. They just collected the data by themselves by asking their friends one by one. It's surprising! I didn't hypothesized it before. They looked enthusiastic in asking their friends one by one to collect the data. Beside, they looked interested about the fav foods choices I gave. I never thought they'd that enthusiatic!
Okay, that's children. We really need to enter their world if we want to make them interested in the learning activity. Sometimes they're just unpredictable. We might prepare and set everything well but they're not interested, and the other way around. So, we really have to understand their character so that we know for sure how to handle them.

Rabu, 03 Februari 2016

Bapak penjual jagung rebus

After a long time,
Tadi,pas lagi keluar cari makan malem, I saw a 'bapak-bapak penjual jagung rebus'. He was waiting for people to buy the corns. Gerimis. Sepi. Beliau Keliatan gelisah, nothing to do and just wait. Sementara pemanas (gas) kudu tetep nyala biar jagungnya anget. What I'm trying to say here then?
You know, sometimes we forget about we've got, because we focuse on what we haven't got yet. Padahal, kalo kita mau looking back for what happened, anything, terus liat keadaan orang lain yang tidak seberuntung kita, nothing we can say but syukur. 
Coba liat bapak penjual jagung itu, beliau tulang punggung keluarga, bekerja keras tiap malem jual jagung, menjaga kehormatan dirinya dari meminta-minta. And what about us? Hidup enak, tidur nikmat,uang ada, kerjaan ada. But sometimes we forget. Kita terus kejar dunia,lupa syukur,lupa untuk berbagi, lupa pada sang pemberi nikmat. Rasanya malu nglihat bapak itu, malu. Kita terus mengeluh, menuntut. Everything we consider as a burden is nothing compare to his. Beliau yang harus kerja keras setiap hari untuk bs survive menghidupi keluarga. Kita yang alhamdulillah terlahir dari keluarga yang beruntung. So, Which of the favours of Allah will you deny?
Don't forget to look back, look at others' life that is not as lucky as ours. It sometimes reminds you how lucky you are, reminds you not to make any complaints about life, and reminds you not to be arrogant about life. 

Good night.

Sabtu, 12 Juli 2014

Bolehkah aku sakit hati?

Selama Ramadhan ini banyak hal yang membuatku terheran-heran. Mungkin itu kenapa aku terlahir dengan nama Heran. Pertama, saat shalat berjamaah taraweh, banyak jamaah perempuan yang belum benar2 mengerti apa arti 'merapatkan shaf'. Aku sendiri memang tak tahu banyak, tapi yang aku tahu merapatkan shaf itu bukan sajadahnya yang dirapatkan, tapi 'kita'nya. Berkali-kali mencoba mengajak ibu2 utuk merapat, tp banyak sekali tanggapan yang membuatku putus asa untuk mengajaknya merapat. Hfffh.
Ada lagi kejadian saat aku sholat di masjid salah satu mall. Saat itu penuh sekali. Tempat mukenah umum ada di pojok, sementara ada orang sholat yang menghalangiku ke sana. Aku minta tolong mbak2 yg dipojok yg sedang berdandan untuk mengambilkan mukena. Tapi miris rasanya memdengar jawabannya. Ia memintaku mengambil sendiri dgn melewati org sholat tsb. Bukankah untuk melewati org sholat hrs ada penghalangnya? Sementara saat itu aku tak membawa tas untuk kutaruh sebagai penghalang. Aku bilang bahwa ada orang sholat dan aku tak bisa melewatinya, akhirnya mbak itu mengambilkan mukena untukku. Lagi2 aku heran, mengapa hanya minta tolong untuk mengambilkan mukena saja rasanya sulit?
Setelah aku dapat mukenanya,aku shalat mengikuti jamaah yg kebetulan baru mau mulai sholat. Aku berdiri di samping ibu2. Aku kagum pada ibu itu, walaupun sudah tua ibadahnya semangat sekali. Bahkan saat sujud terakhir beliau sujud lamaaaaaaa sekali. Aku semakin kagum, dan malu pada diriku sendiri. Tapi kau tahu, selesai sholat lagi2 aku heran, tercengang. Selesai sholat, ibu itu bertanya apakah mukena yg aku pakai adalah mukena umum. Aku jawab saja iya, krn memamng begitu adanya. MasyaAllah, beliau langsung menutup hidung dan memintaku menjauh. Bahkan beliau menutup hidung terus dengan mukenanya saat berdoa dan memastikan mukenanya tidak menempel dengan mukenaku. Astaghfirullaah..aku merasa bak kuman yang menjijikan. Sedih sekali rasanya. Mukena itu memang bau, tp masih dalam ambang sewajarnya mukena umum. Tapi, apakah harus seperti itu mengungkapkannya bu? Memandang jijik, menjauh, dan menutup hidung. Rasanya menyakitkan sekali.
Ya Allah, bolehkah aku sakit hati? Karena jika aku sakit hati, itu berarti ibu itu akan berdosa karenaku. Aku ingin sakit hati terhadapnya, tapi aku juga tak ingin beliau jadi berdosa karena menyakiti hatiku.
Kejadian2 itu membuatku sadar betapa masih rendahnya toleransi dan pengertian sesama muslim. Tidak bisa digeneralisasikan memang, tapi kisah-kisah itu memang ada. Beda sekali dengan keadaan dimana muslim menjadi minoritas. Toleransi, pengertian, kekeluargaan sangat kental. Apa kita harus menjadi minoritas dulu supaya ada toleransi yg tinggi antar muslim?