Ada lagi kejadian saat aku sholat di masjid salah satu mall. Saat itu penuh sekali. Tempat mukenah umum ada di pojok, sementara ada orang sholat yang menghalangiku ke sana. Aku minta tolong mbak2 yg dipojok yg sedang berdandan untuk mengambilkan mukena. Tapi miris rasanya memdengar jawabannya. Ia memintaku mengambil sendiri dgn melewati org sholat tsb. Bukankah untuk melewati org sholat hrs ada penghalangnya? Sementara saat itu aku tak membawa tas untuk kutaruh sebagai penghalang. Aku bilang bahwa ada orang sholat dan aku tak bisa melewatinya, akhirnya mbak itu mengambilkan mukena untukku. Lagi2 aku heran, mengapa hanya minta tolong untuk mengambilkan mukena saja rasanya sulit?
Setelah aku dapat mukenanya,aku shalat mengikuti jamaah yg kebetulan baru mau mulai sholat. Aku berdiri di samping ibu2. Aku kagum pada ibu itu, walaupun sudah tua ibadahnya semangat sekali. Bahkan saat sujud terakhir beliau sujud lamaaaaaaa sekali. Aku semakin kagum, dan malu pada diriku sendiri. Tapi kau tahu, selesai sholat lagi2 aku heran, tercengang. Selesai sholat, ibu itu bertanya apakah mukena yg aku pakai adalah mukena umum. Aku jawab saja iya, krn memamng begitu adanya. MasyaAllah, beliau langsung menutup hidung dan memintaku menjauh. Bahkan beliau menutup hidung terus dengan mukenanya saat berdoa dan memastikan mukenanya tidak menempel dengan mukenaku. Astaghfirullaah..aku merasa bak kuman yang menjijikan. Sedih sekali rasanya. Mukena itu memang bau, tp masih dalam ambang sewajarnya mukena umum. Tapi, apakah harus seperti itu mengungkapkannya bu? Memandang jijik, menjauh, dan menutup hidung. Rasanya menyakitkan sekali.
Ya Allah, bolehkah aku sakit hati? Karena jika aku sakit hati, itu berarti ibu itu akan berdosa karenaku. Aku ingin sakit hati terhadapnya, tapi aku juga tak ingin beliau jadi berdosa karena menyakiti hatiku.
Kejadian2 itu membuatku sadar betapa masih rendahnya toleransi dan pengertian sesama muslim. Tidak bisa digeneralisasikan memang, tapi kisah-kisah itu memang ada. Beda sekali dengan keadaan dimana muslim menjadi minoritas. Toleransi, pengertian, kekeluargaan sangat kental. Apa kita harus menjadi minoritas dulu supaya ada toleransi yg tinggi antar muslim?