Beberapa waktu yang lalu saya memperpanjang paspor saya di Kanim Cirebon. Sebetulnya paspor saya yang lama sudah mati. Tapi sepertinya memperpanjang paspor yang masih berlaku maupun yang sudah mati syaratnya sama.
Ada yang sedikit berbeda dengan proses pendaftaran pengurusan paspor di Kanim Cirebon. Pendaftararan dilakukan melalui whatsapp. Bagi yang mau membuat atau memperpanjang paspor harus mendaftar via whatsapp setiap hari minggu mulai jam 7 malam, atau setiap hari kerja mulai jam 7 pagi. Saya beberapa kali mencoba mendaftar tanpa acuan jam tersebut dan selalu gagal. Setelah saya konfirmasi ke kanim, ternyata ada waktu (hari dan jam) khusus untuk pendaftaran. Jika tidak bisa melakukan pendaftaran dengan whatsapp (atau mungkin selalu gagal), petugas kanim pernah menyarankan saya untuk mengurus paspor pada hari sabtu. Pada hari sabtu, masyarakat boleh mengurus paspor tanpa harus mendaftar dulu via whatsapp, melainkan langsung mendaftar manual di kanim.
Setelah melakukan konfirmasi pendaftaran, saya mendapatkan nomor urut pemeriksaan berkas dan mengisi formulir di customer service. Syarat yang diperlukan untuk memperpanjang paspor yaitu fotokopi KTP, KK, paspor lama dan mungkin menyertakan keterangan keperluan pengurusan paspor itu untuk apa. Setelah semua berkas dinyatakan lengkap, saya diberikan nomor urut untuk pengurusan paspor (identitas, interview dan foto). Interviewnya hanya biasa saja, petugas menanyakan dan mengkonfirmasi identitas, dan keperluan paspornya itu untuk apa. Setelah selesai, saya menunggu sebentar untuk dipanggil foto. Setelah foto petugas akan memberikan billing pembayaran. Kita harus membayar biaya (150rb untuk paspor 24 halaman, atau 300rb untuk paspor 48 halaman) di bank atau kantor pos. Di kanim cirebon ada stan kantor pos untuk pembayaran kok, jadi tidak perlu jauh-jauh keluar kanim untuk membayar. Setelah pembayaran, tinggal tunggu 3 hari sampai paspor jadi. Tidak ada pemberitahuan apa-apa dari kanim, pokoknya setelah 3 hari paspor bisa diambil. Kalau mau mengambil paspor lama juga (karena penuh kenangan mungkin, eeaa), harus mengisi formulir dulu saat pengambilan. Syarat pengambilan paspor baru maupun lama hanya dengan menunjukkan KTP asli.
Nah, begitulah proses pengurusan paspor di Kanim Cirebon. Kalau pembuatan paspor baru sepertinya tidak jauh berbeda. Hanya mungkin syarat dokumennya lebih banyak, seperti akta lahir/ijazah yang tertera nama dan tanggal lahir kita.
I have a bad memory, and I want to write anything so I can remember them anytime in the future.
Rabu, 06 Februari 2019
Jumat, 01 Februari 2019
Dunia Perdosenan dan Perjurnalan
Dulu saat kecil saya selalu berpikir bahwa menjadi dosen dan profesor itu keren sekali. Mereka orang-orang hebat. Seseorang harus menemukan sesuatu (ilmiah) yang baru agar bisa disebut profesor, seperti Pak Habibie. Dari sisi keilmuan Profesor jaman dulu lebih berat kepada penguasaan seseorang tersebut terhadap sebuah ilmu. Urusan administrasi dosen pun tidak sebanyak sekarang (sepertinye hehe), sehingga para dosen lebih fokus pada pengajaran, penguasaan ilmu, dan kebermanfaatan ilmu.
Tapi beberapa tahun belakangan ini, urusan administrasi sangat ditekankan di dunia perdosenan. Dosen harus melakukan Tri Dharma Perguruan Tinggi (pengajaran, penelitian, pengabdian). Setiap tahun (bahkan tiap semester) dosen dituntut untuk melaksanakan penelitian dan pengabdian. Dan, yang menjadi tolak ukur jabatan pangkat dosen sekarang adalah jurnal. Ya, jurnal menjadi primadona di dunia perdosenan beberapa tahun terakhir. Untuk bisa mengajukan kenaikan pangkat, dosen harus submit artikel pada jurnal baik nasional maupun international. Akibatnya, dunia perjurnalan juga ikut booming. Banyak jurnal bermunculan, yang terakreditasi maupun tidak, dengan bermacam-macam indeksasi sebagai tolak ukur, dan jurnal scopus. Jurnal terindeks scopus (Q1, Q2, Q3, dan Q4) menjadi yang paling tinggi tingkatnya. Hampir semua dosen berlomba-lomba berusaha menulis dan memasukka artikelnya pada jurnal yang terakreditasi scopus. Scopus menjadi sebuah tolak ukur (dan gengsi).
Karena tuntutan terkait artikel itulah, dosen sekarang memberikan fokus yang lebih besar pada aspek penelitian dan perjurnalan. Hal ini bukan hal yang buruk, baik malah. Akan tetapi, kadang ada kecenderungan bahwa dosen akan melakukan upaya agar indeks google scholar dan scopus mereka naik. Misalnya, sekarang hampir semua syarat lulus bagi mahasiswa adalah memasukkan artikel skripsinya ke jurnal dengan mencantumkan nama dosennya. Bahkan kadang membebankan biaya jurnal kepada mahasiswa. Bisa dibayangkan, misal mahasiswa bimbingannya tiap tahun ada 10 orang, satu tahun dosen tersebut bisa tercantum namanya di berapa artikel? Dengan begitu, jumlah record artikel dosen akan naik drastis. Kadang ada juga yang nekat memanipulasi atau memodifikasi data agar penelitiannya terlihat meyakinkan. Semua itu dilakukan demi memasukkan artikel ke jurnal yang bergengsi.
So, saya merasa dunia perdosenan tidak seindah dulu. Sekarang semua dosen berlomba-lomba untuk menerbitkan artikelnya dalam jurnal. Saya pribadi jadi berpikir bahwa sekarang untuk bisa menerbitkan artikel pada sebuah jurnal yang dibutuhkan adalah strategi penulisan, bukan kebenaran ilmiah. Selama seseorang pandai mengemas hasil penelitian ke dalam sebuah artikel, maka dosen tersebut sudah bisa mendapatkan poin untuk naik pangkat/jabatan. Masalah kebenaran ilmiah datanya? hanya ia sendiri dan Tuhan yang tahu. Memang ada bagusnya kebijakan tentang artikel jurnal bagi dosen. Dosen menjadi aktif, kreatif, dan berinovasi. Tapi, karena tuntutan itulah kadang dosen melakukan penelitian dan pengabdian, serta menulis artikel seadanya seolah-olah hanya untuk memenuhi kewajiban (agar tunjangan/serdos cair hehe). Passion dan soul dalam penelitian kadang tidak benar-benar ada. Jadi, apakah jurnal itu bisa benar-benar menjadi tolak ukur kualitas dosen? Bisa iya, bisa tidak. Kembali lagi, jika memang keilmuan dan kebenaran ilmiahnya tetap terjaga maka (bagi saya) jurnal bisa dijadikan tolak ukur.
Tapi beberapa tahun belakangan ini, urusan administrasi sangat ditekankan di dunia perdosenan. Dosen harus melakukan Tri Dharma Perguruan Tinggi (pengajaran, penelitian, pengabdian). Setiap tahun (bahkan tiap semester) dosen dituntut untuk melaksanakan penelitian dan pengabdian. Dan, yang menjadi tolak ukur jabatan pangkat dosen sekarang adalah jurnal. Ya, jurnal menjadi primadona di dunia perdosenan beberapa tahun terakhir. Untuk bisa mengajukan kenaikan pangkat, dosen harus submit artikel pada jurnal baik nasional maupun international. Akibatnya, dunia perjurnalan juga ikut booming. Banyak jurnal bermunculan, yang terakreditasi maupun tidak, dengan bermacam-macam indeksasi sebagai tolak ukur, dan jurnal scopus. Jurnal terindeks scopus (Q1, Q2, Q3, dan Q4) menjadi yang paling tinggi tingkatnya. Hampir semua dosen berlomba-lomba berusaha menulis dan memasukka artikelnya pada jurnal yang terakreditasi scopus. Scopus menjadi sebuah tolak ukur (dan gengsi).
Karena tuntutan terkait artikel itulah, dosen sekarang memberikan fokus yang lebih besar pada aspek penelitian dan perjurnalan. Hal ini bukan hal yang buruk, baik malah. Akan tetapi, kadang ada kecenderungan bahwa dosen akan melakukan upaya agar indeks google scholar dan scopus mereka naik. Misalnya, sekarang hampir semua syarat lulus bagi mahasiswa adalah memasukkan artikel skripsinya ke jurnal dengan mencantumkan nama dosennya. Bahkan kadang membebankan biaya jurnal kepada mahasiswa. Bisa dibayangkan, misal mahasiswa bimbingannya tiap tahun ada 10 orang, satu tahun dosen tersebut bisa tercantum namanya di berapa artikel? Dengan begitu, jumlah record artikel dosen akan naik drastis. Kadang ada juga yang nekat memanipulasi atau memodifikasi data agar penelitiannya terlihat meyakinkan. Semua itu dilakukan demi memasukkan artikel ke jurnal yang bergengsi.
So, saya merasa dunia perdosenan tidak seindah dulu. Sekarang semua dosen berlomba-lomba untuk menerbitkan artikelnya dalam jurnal. Saya pribadi jadi berpikir bahwa sekarang untuk bisa menerbitkan artikel pada sebuah jurnal yang dibutuhkan adalah strategi penulisan, bukan kebenaran ilmiah. Selama seseorang pandai mengemas hasil penelitian ke dalam sebuah artikel, maka dosen tersebut sudah bisa mendapatkan poin untuk naik pangkat/jabatan. Masalah kebenaran ilmiah datanya? hanya ia sendiri dan Tuhan yang tahu. Memang ada bagusnya kebijakan tentang artikel jurnal bagi dosen. Dosen menjadi aktif, kreatif, dan berinovasi. Tapi, karena tuntutan itulah kadang dosen melakukan penelitian dan pengabdian, serta menulis artikel seadanya seolah-olah hanya untuk memenuhi kewajiban (agar tunjangan/serdos cair hehe). Passion dan soul dalam penelitian kadang tidak benar-benar ada. Jadi, apakah jurnal itu bisa benar-benar menjadi tolak ukur kualitas dosen? Bisa iya, bisa tidak. Kembali lagi, jika memang keilmuan dan kebenaran ilmiahnya tetap terjaga maka (bagi saya) jurnal bisa dijadikan tolak ukur.
Kamis, 31 Januari 2019
Pendakian Gunung Prau
Pendakian kedua saya setelah ranukumbolo. Yah, sengaja milih gunung yang nggak terlalu tinggi krn msh pemula. Gunung Prau tingginya sekitar 2500an mdpl. Saya berempat dengan teman2 ikut open trip krn kami cewek semua. Kita naik via wates, mulai berangkat sekitar jam 5 lebih dari basecamp. Kalau kata orang sih trek via wates itu trek terkalem utk para pemula. Iya sih, jalurnya nggak terlalu ekstrim. Tp aku ngrasanya lebih nanjak ini drpd waktu ke ranukumbolo hehe. Krn kita berangkat menjelang maghrib, di pos pertama kita sempet liat siluet2 sunset gitu. Amazing. Sebenernya dr basecamp ke pos 1 itu ada jasa ojek, sekitar 20rb. Trek ke pos 1 kita nglewatin perumahn penduduk dan perkebunan gitu. Setelah pos 1 baru deh nglewatin hutan-hutan.
Dr pos pertama sampe puncak kita jalan gelaap krn udah malem. Cuma ditemani senter hp sama musik. Untung mas2 pemandunya inisiatif bawa speaker, kalo nggak sereem. Malem2 gelap lewat hutan2. Di pos 3, ada yg namanya tangga cinta. Buat para jomblo pasti kerasa ngenesnya haha. Namanya sih tanjakan cinta, tp nggak bikin jatuh cinta soalnya tanjakan naiknya lumayan euy, puanjaang. Waktu di tanjakan cinta keliatan banget sebelah kana gunung2 keliatan cantik padahal malem. Apalagi kalau lg terang. Langit malemnya saat itu juga super cantik!
Kalau kata mas2 pemandunya "ayo mbak, dikit lg nyampe, itu udah keliatan puncaknya". Tapi percayalah gaes, semua yg keliatan deket di gunung itu aslinya jauh (kayak kamu, eeaa). Dan dengan sisa2 tenaga akhirnya kita sampe puncak, dan dinginnya ampuuunn. Kayaknya sekitar belasan derajat, tp udah lumayan bikin tangan mati rasa. Abis tendanya siap rasanya pengen langsung tepar. Tp mas2 pemandu semangat banget nyiapin makan malem. Sebenerny udah nggak selera makan krn pengen tidur banget, dan khawatir jg kalo makan takut besoknya sakit perut haha. Masalah buang air juga PR banget nih. Kita harus nyari semak2 yg nggak keliatan tiap kali mau buang air. Udah gitu hrs irit air, kebayang kan haha.
Abis makan dikit trs kita tidur dan akhirnya bangun pas subuh. Abis sholat kita nungguin golden hour. Pas mataharinya mulai nongol wah keren bangeett. Worth it deh! Kita hunting2 foto sampe sktr jam 6 trs mulai pd nyiapin sarapan.
Dan you know gaes, mas2 pemandu niaat banget bawa melon sama buah naga (kebayang kan beratnya kayak apa) dan kita dibikinin semacam sup buah mungkin. Kebayang kan, makan sup buah di puncak, mantap! Lauknya juga mantap banget, pake bikin bakwan segala haha.
Abis sarapan kita beres packing siap2 turun. Jgn lupa kalo mau turun sampai dibersihin ya gaes. Jalur pulang kita lewat patak banteng. Ya Allah treknya ekstriim, curam dan berdebuuu banget! Untuk naiknya nggak lewat sini, kalo naik lewat sini kayaknya nggak bakal sanggup sampe puncak haha. Turun sih lebih cepet ya, nggak ada 3 jam kit udah sampe basecamp.
So, overall capek tp worth it! Buat para pendaki pemula wajib cobain ke prau.
Dr pos pertama sampe puncak kita jalan gelaap krn udah malem. Cuma ditemani senter hp sama musik. Untung mas2 pemandunya inisiatif bawa speaker, kalo nggak sereem. Malem2 gelap lewat hutan2. Di pos 3, ada yg namanya tangga cinta. Buat para jomblo pasti kerasa ngenesnya haha. Namanya sih tanjakan cinta, tp nggak bikin jatuh cinta soalnya tanjakan naiknya lumayan euy, puanjaang. Waktu di tanjakan cinta keliatan banget sebelah kana gunung2 keliatan cantik padahal malem. Apalagi kalau lg terang. Langit malemnya saat itu juga super cantik!
Kalau kata mas2 pemandunya "ayo mbak, dikit lg nyampe, itu udah keliatan puncaknya". Tapi percayalah gaes, semua yg keliatan deket di gunung itu aslinya jauh (kayak kamu, eeaa). Dan dengan sisa2 tenaga akhirnya kita sampe puncak, dan dinginnya ampuuunn. Kayaknya sekitar belasan derajat, tp udah lumayan bikin tangan mati rasa. Abis tendanya siap rasanya pengen langsung tepar. Tp mas2 pemandu semangat banget nyiapin makan malem. Sebenerny udah nggak selera makan krn pengen tidur banget, dan khawatir jg kalo makan takut besoknya sakit perut haha. Masalah buang air juga PR banget nih. Kita harus nyari semak2 yg nggak keliatan tiap kali mau buang air. Udah gitu hrs irit air, kebayang kan haha.
Abis makan dikit trs kita tidur dan akhirnya bangun pas subuh. Abis sholat kita nungguin golden hour. Pas mataharinya mulai nongol wah keren bangeett. Worth it deh! Kita hunting2 foto sampe sktr jam 6 trs mulai pd nyiapin sarapan.
Dan you know gaes, mas2 pemandu niaat banget bawa melon sama buah naga (kebayang kan beratnya kayak apa) dan kita dibikinin semacam sup buah mungkin. Kebayang kan, makan sup buah di puncak, mantap! Lauknya juga mantap banget, pake bikin bakwan segala haha.
Abis sarapan kita beres packing siap2 turun. Jgn lupa kalo mau turun sampai dibersihin ya gaes. Jalur pulang kita lewat patak banteng. Ya Allah treknya ekstriim, curam dan berdebuuu banget! Untuk naiknya nggak lewat sini, kalo naik lewat sini kayaknya nggak bakal sanggup sampe puncak haha. Turun sih lebih cepet ya, nggak ada 3 jam kit udah sampe basecamp.
So, overall capek tp worth it! Buat para pendaki pemula wajib cobain ke prau.
Minggu, 27 Januari 2019
The beauty of Berlin
Ah, terlalu banyak yang ingin kuceritakan.
Berlin, kota yang indah sekali. Walaupun aku akui, Paris tetaplah yang terindah.
Liburan kali ini aku ke Berlin, bersama 4 teman lainnya (Fachry, Wahid, pak Zul, dan pak Rizal). I was the most beautiful girl at that moment! :D
It took around 8-9 hours from Utrecht. Saat perjalanan ke Berlin, kami bertemu 5 teman dari Grongingen dan Leeuwarden yang juga mau ke Berlin. Rasanya senang sekali bisa bertemu teman sebangsa, sebahasa, dan seperjuangan. Setelah kami sampai di ZOB (Zentraler Omnibusbahnhof Berlin), kami berpisah karena berbeda planning. Kami singgah di wombats hostel dulu untuk menitipkan barang2. Setelah itu, objek pertama kami adalah East side gallery dan .... Setelah itu kami ke Berlin wall, dan Brandenburg Gate. Malamnya, kami ke Brandenburg gate lagi karena kami ingin menikmati suasana malamnya. Karena Reichstag juga satu kompleks dengan gate, kami juga mampir kesana. Setelah itu, kami ke Berlin Victory column. Karena dari pagi kami sudah berjalan, rasanya capeeeeekkk sekali. Hampir tak bisa melangkah kaki ini. Keesokan harinya, kita ke Berlin dom, museum island, dan checkpoint charlie. Semua ada cerita historynya. Bagi yang suka sejarah, pasti kalian suka Berlin
Berlin, kota yang indah sekali. Walaupun aku akui, Paris tetaplah yang terindah.
Liburan kali ini aku ke Berlin, bersama 4 teman lainnya (Fachry, Wahid, pak Zul, dan pak Rizal). I was the most beautiful girl at that moment! :D
It took around 8-9 hours from Utrecht. Saat perjalanan ke Berlin, kami bertemu 5 teman dari Grongingen dan Leeuwarden yang juga mau ke Berlin. Rasanya senang sekali bisa bertemu teman sebangsa, sebahasa, dan seperjuangan. Setelah kami sampai di ZOB (Zentraler Omnibusbahnhof Berlin), kami berpisah karena berbeda planning. Kami singgah di wombats hostel dulu untuk menitipkan barang2. Setelah itu, objek pertama kami adalah East side gallery dan .... Setelah itu kami ke Berlin wall, dan Brandenburg Gate. Malamnya, kami ke Brandenburg gate lagi karena kami ingin menikmati suasana malamnya. Karena Reichstag juga satu kompleks dengan gate, kami juga mampir kesana. Setelah itu, kami ke Berlin Victory column. Karena dari pagi kami sudah berjalan, rasanya capeeeeekkk sekali. Hampir tak bisa melangkah kaki ini. Keesokan harinya, kita ke Berlin dom, museum island, dan checkpoint charlie. Semua ada cerita historynya. Bagi yang suka sejarah, pasti kalian suka Berlin
Langganan:
Postingan (Atom)



