Tadi,pas lagi keluar cari makan malem, I saw a 'bapak-bapak penjual jagung rebus'. He was waiting for people to buy the corns. Gerimis. Sepi. Beliau Keliatan gelisah, nothing to do and just wait. Sementara pemanas (gas) kudu tetep nyala biar jagungnya anget. What I'm trying to say here then?
You know, sometimes we forget about we've got, because we focuse on what we haven't got yet. Padahal, kalo kita mau looking back for what happened, anything, terus liat keadaan orang lain yang tidak seberuntung kita, nothing we can say but syukur.
Coba liat bapak penjual jagung itu, beliau tulang punggung keluarga, bekerja keras tiap malem jual jagung, menjaga kehormatan dirinya dari meminta-minta. And what about us? Hidup enak, tidur nikmat,uang ada, kerjaan ada. But sometimes we forget. Kita terus kejar dunia,lupa syukur,lupa untuk berbagi, lupa pada sang pemberi nikmat. Rasanya malu nglihat bapak itu, malu. Kita terus mengeluh, menuntut. Everything we consider as a burden is nothing compare to his. Beliau yang harus kerja keras setiap hari untuk bs survive menghidupi keluarga. Kita yang alhamdulillah terlahir dari keluarga yang beruntung. So, Which of the favours of Allah will you deny?
Don't forget to look back, look at others' life that is not as lucky as ours. It sometimes reminds you how lucky you are, reminds you not to make any complaints about life, and reminds you not to be arrogant about life.
Good night.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar